banner 300250
banner 300250
BudayaDAERAHKESRAPemerintah Daerahsosial

Bupati Rijanto Pimpin Ziarah Leluhur, Hari Jadi Kabupaten Blitar Dimaknai Sebagai Perjalanan Sejarah

×

Bupati Rijanto Pimpin Ziarah Leluhur, Hari Jadi Kabupaten Blitar Dimaknai Sebagai Perjalanan Sejarah

Sebarkan artikel ini
Bupati Rijanto Pimpin Ziarah Leluhur, Hari Jadi Kabupaten Blitar

BLITAR, Kabinetri.id– Setiap daerah memiliki cara untuk merayakan hari jadinya. Ada yang memilih pesta rakyat, pertunjukan seni, hingga festival budaya. Namun bagi Kabupaten Blitar, perjalanan menuju usia ke-702 tahun diawali dengan langkah yang lebih hening namun sarat makna, yakni menundukkan kepala di hadapan makam para leluhur. Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah napak tilas yang menghubungkan masa kini dengan jejak panjang sejarah yang membentuk identitas Bumi Penataran.

Mengawali rangkaian Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar, Senin (3/8/2026), Bupati Blitar Rijanto memimpin ziarah ke sejumlah makam tokoh bersejarah bersama jajaran Forkopimda serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Prosesi berlangsung khidmat, menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada kemajuan fisik, tetapi juga berakar pada penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai budaya yang diwariskan para pendahulu.

Rangkaian ziarah dimulai dari makam Pangeran Aryo Blitar, sosok yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Blitar. Perjalanan kemudian berlanjut menuju makam Syech Subakir di Desa Penataran, tokoh yang dikenal dalam khazanah budaya Jawa sebagai penyebar nilai spiritual di tanah Nusantara. Selanjutnya rombongan berziarah ke makam Proklamator Republik Indonesia Ir. Soekarno, putra bangsa yang memiliki ikatan emosional kuat dengan Kota dan Kabupaten Blitar. Ziarah ditutup di Kompleks Makam Pangeranan, tempat para adipati Blitar dari masa kerajaan hingga kolonial dimakamkan.

Keempat lokasi tersebut seolah menjadi simpul perjalanan sejarah Blitar yang saling terhubung. Dari era kerajaan, perkembangan nilai spiritual masyarakat, perjuangan kemerdekaan bangsa, hingga lahirnya pemerintahan modern, semuanya menjadi bagian dari mozaik panjang perjalanan Kabupaten Blitar selama lebih dari tujuh abad.

Bupati Blitar Rijanto mengatakan, ziarah leluhur merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh yang telah memberikan warisan nilai, keteladanan, dan pengabdian bagi daerah. Menurutnya, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan yang dinikmati masyarakat saat ini merupakan hasil perjuangan panjang generasi terdahulu.

“Alhamdulillah seluruh rangkaian ziarah hari ini berjalan lancar sesuai rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Blitar. Ini merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur Blitar,” ujar Rijanto.

Lebih dari sekadar mengenang masa lalu, ziarah juga mengandung filosofi bahwa sebuah daerah akan kehilangan arah apabila melupakan akar sejarahnya. Nilai gotong royong, kebersamaan, keberanian, dan semangat pengabdian yang diwariskan para pendahulu menjadi modal sosial yang tetap relevan untuk menghadapi tantangan pembangunan di masa kini.

Semangat tersebut kemudian dituangkan dalam tema Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar, “Manggih Raharjo, Blitar Kuncoro.” Filosofi itu mencerminkan harapan agar masyarakat Kabupaten Blitar senantiasa menemukan keselamatan, kesejahteraan, dan kemakmuran, sekaligus menjadikan Blitar semakin dikenal luas melalui prestasi, pelayanan publik, pelestarian budaya, serta pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.

Rijanto menjelaskan, rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Blitar masih akan berlanjut dengan berbagai agenda, termasuk pelaksanaan Pisowanan Agung pada 5 Agustus mendatang. Tradisi tersebut menjadi simbol eratnya hubungan antara pemerintah, masyarakat, dan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum pelaksanaan ziarah kali ini, Pemerintah Kabupaten Blitar telah melakukan penghormatan ke makam Pangeran Samber Nyawa atau Raden Mas Said yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Blitar. Rangkaian itu semakin mempertegas bahwa Hari Jadi Kabupaten Blitar bukan hanya momentum memperingati bertambahnya usia daerah, tetapi juga ruang refleksi untuk menghargai perjalanan sejarah yang telah membentuk karakter masyarakatnya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ziarah leluhur menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Justru dari jejak para pendahulu itulah lahir arah perjalanan masa depan. Sebab sejarah bukan sekadar cerita yang disimpan dalam buku, melainkan nilai yang terus hidup dalam tindakan, kebijakan, dan semangat masyarakatnya.

Memasuki usia ke-702 tahun, Kabupaten Blitar membawa pesan bahwa membangun daerah tidak cukup hanya dengan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kemajuan akan memiliki makna apabila berjalan seiring dengan pelestarian sejarah, penghormatan terhadap budaya, dan kesadaran bahwa masa depan yang kokoh selalu bertumpu pada akar yang kuat. (Wiro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *