Blitar, Kabinetri.id– Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali menjadi ancaman serius bagi dunia peternakan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Memasuki Januari 2026, tercatat sedikitnya 72 ekor sapi terjangkit PMK, dengan sebaran kasus terbanyak di Kecamatan Nglegok, Kesamben, dan Talun. Lonjakan ini memicu kekhawatiran peternak, mengingat PMK sempat melumpuhkan sektor peternakan beberapa tahun lalu.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Heri Widyatmoko, S.Pt, mengungkapkan bahwa tren kenaikan kasus sebenarnya sudah terdeteksi sejak Desember 2025. Menurutnya, perubahan cuaca yang ekstrem—musim hujan yang diselingi panas terik—menjadi salah satu faktor yang memicu turunnya daya tahan tubuh ternak, sehingga lebih rentan terserang virus PMK.
Namun, faktor terbesar justru datang dari rendahnya kesadaran peternak terhadap vaksin booster. Heri menegaskan, masih banyak peternak yang beranggapan vaksin satu kali sudah cukup untuk melindungi ternaknya. Padahal, vaksin PMK membutuhkan booster rutin setiap enam bulan agar kekebalan tetap optimal.
“Masih banyak yang menolak atau menunda vaksin ulang. Padahal, ternak yang rutin divaksin terbukti lebih tahan terhadap serangan PMK,” jelas Heri (22/01).
Dampak PMK tak hanya menyerang sapi. Di Kecamatan Nglegok,dari data petugas di lapangan sejumlah kambing dilaporkan ikut tertular, terutama yang dikandangkan berdekatan dengan sapi. Penularan lintas spesies ini semakin memperparah situasi, karena memperluas potensi penyebaran penyakit di tingkat kandang rakyat.
Secara klinis, ternak yang terjangkit PMK menunjukkan demam tinggi, liur berlebihan berbusa, sariawan pada mulut, serta luka di bagian kuku. Kondisi ini membuat ternak kehilangan nafsu makan, tampak lesu, gemetar, hingga mengalami penurunan berat badan drastis. Pada anak sapi, PMK bahkan dapat menyebabkan kematian mendadak jika tidak segera ditangani.
Untuk menekan penyebaran, petugas Dinas Peternakan telah turun langsung ke lokasi melakukan pengobatan, penyemprotan disinfektan, serta edukasi kepada peternak. Ternak yang sakit diminta segera diisolasi dan dipisahkan dari yang sehat. Selain itu, lalu lintas ternak juga diimbau untuk dibatasi sementara.
Heri juga menyoroti Pasar Hewan sebagai salah satu pintu masuk potensial PMK. Ia mengakui, sulit mendeteksi apakah hewan yang diperjualbelikan sudah divaksin atau belum, sehingga risiko penularan tetap tinggi. Oleh karena itu, pengawasan akan diperketat, termasuk pemeriksaan kesehatan ternak sebelum masuk pasar.
Dari total 72 sapi yang terjangkit, 39 ekor di antaranya telah dinyatakan pulih. Meski demikian, pemerintah daerah tetap mengimbau peternak untuk tidak lengah. Vaksin booster, kebersihan kandang, serta pembatasan keluar-masuk ternak menjadi kunci utama mencegah PMK kembali meluas.
“Kami minta peternak disiplin, batasi lalu lintas ternak, jaga sterilisasi, dan segera lakukan vaksin ulang. Ini demi menyelamatkan usaha mereka sendiri,” pungkas Heri.
Dengan meningkatnya kasus PMK di Blitar, kewaspadaan dan kerja sama semua pihak menjadi sangat penting agar wabah ini tidak kembali menjadi krisis besar bagi peternakan lokal. (Wiro)














