Blitar,Kabinetri.id-Pagi itu, 18 Februari, berjalan biasa saja. Tak ada penanda khusus di kalender rumah-rumah warga. Tidak pula terdengar pengumuman di ruang publik. Namun, di balik rutinitas yang tampak normal, sebagian warga sedang memasuki masa sunyi yang sama: berpuasa.
Siti, seorang ibu rumah tangga di permukiman padat, mulai menata ulang kebiasaan dapurnya. Ia mengurangi belanja, memilih menu yang lebih sederhana, dan mencoba menahan diri dari keluhan-keluhan kecil yang biasanya mudah keluar. “Puasa Ramadhan itu bukan cuma soal makan dan minum,” katanya pelan, suatu sore. “Tapi soal sabar.”
Beberapa rumah dari situ, Andreas seorang pekerja lepas juga memulai hari dengan niat yang serupa, meski dalam tradisi yang berbeda. Ia memasuki puasa Rabu Abu untuk mempersiapkan diri bagi perayaan Paskah dan pertobatan selama 40 hari, menahan diri dari hal-hal yang selama ini dianggap wajar: makanan tertentu, kebiasaan mengeluh, dan dorongan untuk bereaksi berlebihan.
Mereka bertetangga. Saling menyapa. Namun tak pernah membicarakan satu hal penting: bahwa mereka sedang menjalani praktik spiritual yang, pada hari itu, bertepatan.
Puasa yang Tak Dibicarakan
Pertemuan puasa umat Muslim dan Kristen pada 18 Februari nyaris tak pernah menjadi perbincangan publik. Tak ada seremoni. Tak ada narasi besar tentang kebersamaan lintas iman. Bahkan sebagian warga sendiri tak menyadarinya.
Ada semacam kesepakatan tak tertulis di masyarakat bahwa ibadah adalah urusan privat. Sikap ini, dalam banyak hal, menjaga keharmonisan. Namun di sisi lain, ia juga membuat momen-momen kebersamaan nilai kemanusiaan berlalu tanpa disadari.
Padahal, jika ditarik ke esensinya, puasa dalam dua tradisi itu bertumpu pada nilai yang mirip: pengendalian diri, refleksi batin, dan kepedulian terhadap sesama terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Bahasa Batin yang Sama
Bagi Siti, puasa berarti belajar menahan amarah pada hal-hal sepele: antrean panjang, suara bising, atau persoalan ekonomi yang tak kunjung selesai. Ia mengaku lebih berhati-hati dalam berbicara dan mencoba menunda emosi.
Bagi Andreas, puasa menjadi ruang jeda. Ia mengurangi komentar sinis, memperbanyak diam, dan mencoba mendengar lebih banyak. “Puasa mengingatkan saya bahwa tidak semua hal harus ditanggapi,” ujarnya (18/2).
Keduanya tidak sedang menjalani ritual yang sama. Namun mereka berbagi bahasa batin yang serupa: menahan, mengurangi, dan memperbaiki.
Tanpa sadar, praktik spiritual itu merembes ke ruang sosial. Tegur sapa terasa lebih hangat. Konflik kecil dibiarkan reda. Kepedulian hadir dalam bentuk paling sederhana membagi makanan, menanyakan kabar, atau sekadar tidak memperkeruh suasana.
Toleransi yang Tidak Diproklamasikan
Di ruang publik, toleransi sering hadir sebagai jargon di spanduk, seminar, atau pidato resmi. Namun dalam kehidupan warga, toleransi jarang diumumkan. Ia bekerja diam-diam, melalui kebiasaan menahan diri dan empati yang tumbuh perlahan.
Pertemuan puasa pada 18 Februari tidak serta-merta menghapus perbedaan teologis. Ia tidak dimaksudkan untuk menyamakan keyakinan. Justru sebaliknya, ia menunjukkan bahwa di tengah perbedaan cara beribadah, ada kesamaan tujuan moral: menjadi manusia yang lebih baik.
Dalam konteks sosial di Indonesia yang kerap diuji oleh isu identitas kesadaran semacam ini menjadi penting. Bukan untuk dirayakan berlebihan, tetapi untuk direnungkan bersama.
Catatan Akhir
Tanggal 18 Februari akan berlalu seperti hari-hari lainnya. Namun bagi sebagian warga, ia menyisakan pemahaman sederhana: bahwa di hari yang sama, tetangga mereka sedang menahan lapar, menahan emosi, dan menata ulang diri meski dengan cara dan keyakinan yang berbeda.
Mungkin toleransi tidak selalu lahir dari dialog besar. Kadang, ia tumbuh dari kesunyian yang sama, dijalani bersama, tanpa perlu disepakati. (Wiro)














