BLITAR, Kabinetri.id– Di tengah permukiman Jalan Kemuning, Kelurahan Plosokerep, Kota Blitar, berdiri sebuah mushola tua yang tak sekadar menjadi tempat ibadah. Langgar Gantung Annur diyakini sebagai langgar tertua di Kota Blitar, dibangun sekitar tahun 1825 dan masih aktif digunakan hingga kini.
Bangunan panggung berbahan kayu jati itu dipercaya sebagai peninggalan pasukan Pangeran Diponegoro saat bergerilya melawan kolonial Belanda. Selain menjalankan perlawanan, para pengikut Diponegoro juga disebut menyebarkan syiar Islam di wilayah Mataraman, termasuk Plosokerep.
Generasi keenam keluarga pemilik, Isman Hadi, menuturkan langgar ini diprakarsai oleh Irodikromo atau Mbah Iro Dikoro, tokoh penyebar Islam setempat sekaligus bagian dari laskar Diponegoro. “Saat itu ada lima tokoh yang bersembunyi dan bergerilya di Plosokerep. Selain berjuang, mereka juga menyebarkan Islam. Mbah Iro Dikoro yang mendirikan Langgar Annur,” ujarnya, Rabu (25/2).
Salah satu ciri khas langgar ini dahulu adalah keberadaan pohon sawo di halaman, yang diyakini menjadi sandi bagi jaringan pengikut Diponegoro. Namun pohon terakhir roboh diterjang angin pada 2025. Kini, penanda sejarah itu tinggal kenangan.
Meski telah berusia dua abad, sekitar 90 persen struktur bangunan disebut masih asli. Pilar saka dari kayu jati, bedug tua, serta dinding anyaman bambu tetap dipertahankan. Beberapa bagian memang mengalami restorasi, seperti atap seng di teras, plafon eternit, serta penguatan panggung dengan semen. Atap dalam mushola yang sempat diganti asbes kini dikembalikan ke anyaman bambu, sementara mihrab berhias ukiran khas Jepara tetap dipertahankan.
Tak hanya menjadi situs sejarah, Langgar Gantung Annur tetap hidup sebagai ruang ibadah. Shalat Maghrib, Isya, dan Subuh rutin digelar, termasuk tarawih dan tadarus saat Ramadan. Bedug asli masih digunakan, sementara kentongan lama disimpan di bawah bangunan.
Namun, upaya pelestarian menghadapi tantangan, terutama pembiayaan. Perawatan selama ini mengandalkan swadaya keluarga dan partisipasi warga sekitar. “Kalau ada kebutuhan renovasi, saya foto lalu dibagikan ke grup WhatsApp untuk partisipasi sukarela,” kata Isman.
Di balik kesederhanaannya, Langgar Gantung Annur menjadi bukti bahwa jejak sejarah penyebaran Islam dan perjuangan kemerdekaan di Blitar bukan sekadar cerita, melainkan warisan nyata yang masih berdetak hingga hari ini. (Wiro)














