BLITAR, Kabinetri.id– Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana berbeda terlihat di sejumlah lapak penukaran uang baru di Kota Blitar. Jika biasanya kawasan Jalan Mastrip dipenuhi pedagang yang menawarkan jasa penukaran uang pecahan kecil untuk kebutuhan Lebaran, tahun ini justru tampak lebih sepi dari biasanya.
Beberapa pedagang mengaku jumlah peminat yang datang untuk menukar uang baru mengalami penurunan omzet dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut bahkan membuat jumlah lapak yang beroperasi juga berkurang.
Purwanto, salah satu pemilik lapak penukaran uang baru di Jalan Mastrip Kota Blitar, mengaku tahun ini aktivitas jual beli uang baru terasa jauh lebih lengang.
“Peminat tahun ini sepi, mungkin ekonomi juga lagi lesu atau THR belum ada yang cair. Biasanya kalau Lebaran tinggal seminggu mulai ramai peminat,” kata Purwanto saat ditemui, Sabtu (7/3/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut cukup berbeda dibandingkan momentum Ramadan tahun lalu. Pada periode yang sama, kawasan Jalan Mastrip biasanya dipenuhi pedagang penukaran uang baru yang berjajar di pinggir jalan.
Namun pada Ramadan tahun ini, hanya beberapa pedagang yang membuka lapak. Hal itu diduga karena para pedagang juga mempertimbangkan risiko sepinya pembeli.
Dari sisi harga, Purwanto menjelaskan bahwa biaya jasa penukaran uang baru saat ini berkisar Rp14 ribu per seratus ribu,untuk setiap paket pecahan tertentu. Bahkan ia memprediksi harga tersebut bisa meningkat dalam beberapa hari ke depan.
“Sekarang sekitar Rp14 ribu per seratus ribunya, tapi kemungkinan minggu depan bisa naik sampai Rp15 ribu,” ujarnya.
Secara umum, permintaan uang baru memang biasanya meningkat menjelang Idulfitri. Tradisi berbagi uang kepada anak-anak atau kerabat saat Lebaran membuat masyarakat mencari pecahan uang kecil yang masih baru.
Namun jika melihat kondisi saat ini, ada beberapa faktor yang kemungkinan memengaruhi penurunan minat masyarakat. Selain faktor pencairan THR yang belum merata, kondisi ekonomi yang sedang tidak terlalu kuat juga bisa menjadi penyebab masyarakat lebih berhati-hati dalam pengeluaran.
Di sisi lain, kemudahan layanan penukaran uang melalui perbankan juga turut mengubah pola masyarakat. Banyak warga kini memilih menukar uang langsung di bank atau melalui layanan resmi yang disediakan menjelang Lebaran.
Meski begitu, para pedagang masih berharap situasi akan berubah mendekati hari raya. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa lonjakan permintaan biasanya terjadi sekitar satu minggu sebelum Lebaran.
Jika tren tersebut kembali terjadi, lapak-lapak penukaran uang baru di Kota Blitar berpotensi kembali ramai dalam waktu dekat. (Wiro)














