banner 300250
banner 300250
BudayaDAERAHEkonomiKESRAMARVESPemerintah Daerahsosial

Sisi Lain Blitar Djadoel 2026: Seniman Puji Zonasi Sejarah, Kritik Gaung Promosi yang Dinilai Meredup

×

Sisi Lain Blitar Djadoel 2026: Seniman Puji Zonasi Sejarah, Kritik Gaung Promosi yang Dinilai Meredup

Sebarkan artikel ini
Publikasi Dinilai Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

BLITAR, Kabinetri.id– Kemeriahan Blitar Djadoel 2026 tak hanya menghadirkan suasana nostalgia bagi ribuan pengunjung yang memadati Alun-Alun Kota Blitar. Di balik gemerlap lampu, kostum tempo dulu, hingga alunan musik keroncong, terdapat tangan-tangan kreatif para seniman dekorasi yang menjadi aktor penting dalam menghadirkan pengalaman menyusuri perjalanan sejarah bangsa.

Tahun ini, konsep Blitar Djadoel mendapat apresiasi dari kalangan seniman karena menghadirkan pembagian zonasi berdasarkan perjalanan sejarah Indonesia. Meski demikian, mereka juga memberikan sejumlah catatan agar agenda budaya tahunan tersebut semakin dikenal luas.

Nanang, salah seorang seniman dekorasi yang telah lama terlibat dalam penyelenggaraan Blitar Djadoel, menilai penyelenggaraan tahun ini menunjukkan perkembangan positif dibanding edisi sebelumnya.

“Sekarang sudah mulai berkembang. Nampak adanya desain zonasi sesuai masanya, yaitu masa kerajaan, menjelang kemerdekaan, dan setelah kemerdekaan,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, konsep zonasi tersebut membuat pengunjung tidak sekadar menikmati dekorasi, tetapi juga diajak memahami perjalanan sejarah secara lebih runtut. Setiap kawasan memiliki karakter yang berbeda, mulai dari nuansa kerajaan, masa perjuangan kemerdekaan, hingga kehidupan masyarakat setelah Indonesia merdeka.

“Persiapan para seniman juga sudah dilakukan jauh hari. Dekorasinya tertata sesuai tema masing-masing zonasi, sehingga pengunjung seperti diajak masuk ke lorong waktu,” tambahnya.

Angkat Semangat Perjuangan Lewat Tema PETA

Pandangan serupa disampaikan Aziz, seniman senior yang telah mengikuti Blitar Djadoel sejak 1997. Menurutnya, setiap penyelenggaraan selalu mengalami perubahan sebagai bentuk penyesuaian dengan perkembangan zaman.

“Dari masa ke masa selalu mengalami perubahan, baik tema, kepanitiaan, maupun desain tata letak. Itu wajar karena tuntutan zaman juga berubah,” katanya.

Pada Blitar Djadoel 2026, Aziz mengusung tema PETA (Pembela Tanah Air). Tema tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kota Blitar sebagai salah satu lokasi penting dalam perjuangan bangsa.

“Blitar merupakan ikon PETA. Di kota ini pernah terjadi pergolakan yang dimotori Supriyadi bersama anggota PETA untuk melawan tirani Jepang. Ini sejarah besar yang tidak boleh dilupakan generasi penerus,” tuturnya (6/7).

Untuk memperkuat pesan tersebut, Aziz menghadirkan berbagai elemen visual, mulai dari replika bunker, poster propaganda era pendudukan Jepang, hingga atribut dan seragam PETA. Baginya, dekorasi bukan sekadar pemanis acara, tetapi juga menjadi media edukasi sejarah bagi masyarakat.

Publikasi Dinilai Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Di balik apresiasi terhadap konsep penyelenggaraan, Aziz juga menyoroti minimnya publikasi Blitar Djadoel tahun ini. Menurutnya, gaung promosi terasa tidak sekuat penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu publikasinya ramai melalui media cetak, televisi, sampai baliho di pintu-pintu masuk kota. Tahun ini belum begitu terlihat, padahal Blitar Djadoel sudah menjadi agenda tahunan yang ditunggu masyarakat,” ungkapnya.

Ia menilai promosi yang lebih masif akan berdampak positif terhadap jumlah kunjungan wisatawan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi para pelaku UMKM yang turut meramaikan festival.

Ajak Generasi Muda Mengenal Sejarah

Di akhir perbincangan, Aziz mengajak generasi muda untuk tidak sekadar datang menikmati hiburan, tetapi juga memahami nilai sejarah yang diangkat dalam setiap sudut Blitar Djadoel.

“Event ini bukan hanya hiburan. Ini menjadi media literasi sejarah. Datanglah memakai pakaian jadul, ikut merasakan suasana masa lampau, berfoto, dan pahami bagaimana perjuangan para pendahulu kita,” pesannya.

Blitar Djadoel 2026 menjadi bukti bahwa sebuah festival budaya tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang bertemunya seni, sejarah, dan edukasi. Di balik setiap dekorasi yang menghiasi kawasan festival, tersimpan dedikasi para seniman yang berupaya menghidupkan kembali jejak perjalanan bangsa agar tetap dikenang lintas generasi. (Wiro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *