BLITAR, Kabinetri.id– Pagelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Katentreman menjadi puncak rangkaian peringatan 1 Suro di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, Kamis malam (18/6/2026). Pementasan yang dibawakan oleh Ki Dalang Ki Hari Gondrong tersebut berlangsung di kawasan Pantai Serang dan disaksikan ratusan warga.
Lakon Wahyu Katentreman mengisahkan pencarian anugerah ilahi berupa kedamaian batin dan keharmonisan hidup. Cerita pewayangan ini mengajarkan bahwa ketenteraman sejati tidak diperoleh melalui ambisi, kekuasaan, maupun kekerasan, melainkan melalui keikhlasan, pengendalian diri, serta keselarasan dengan kehendak Tuhan.
Dalam kisah tersebut, wahyu digambarkan memilih sosok pemimpin yang bijaksana dan mampu menyatukan berbagai golongan. Ketenteraman masyarakat diyakini hanya dapat tercapai apabila dipimpin oleh figur yang memiliki kebijaksanaan dan ketenangan batin.
Selain itu, lakon ini juga menggambarkan perjuangan Pandawa yang meraih wahyu melalui kesabaran, kejujuran, dan jalan dharma. Nilai tersebut berbanding terbalik dengan Kurawa yang berupaya merebut wahyu melalui ambisi dan kekerasan. Pesan lain yang terkandung dalam cerita ini adalah pentingnya menjaga kerukunan, menolak perpecahan, serta menghindari berbagai bentuk provokasi yang dapat mengganggu kehidupan bermasyarakat.
Kepala Desa Serang, Dwi Handoko, mengatakan pagelaran wayang kulit digelar sebagai upaya melestarikan budaya warisan leluhur agar tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda.
“Pagelaran wayang kulit malam ini merupakan rangkaian peringatan 1 Suro pada penanggalan Jawa,” kata Dwi Handoko dalam sambutannya.
Menurutnya, pemilihan lakon Wahyu Katentreman memiliki makna khusus bagi masyarakat Desa Serang. Melalui cerita tersebut, warga berharap desa yang berada di kawasan pesisir selatan itu senantiasa diberikan ketenteraman, keselamatan, dan kemakmuran.
“Lakon Wahyu Katentreman dikandung maksud agar Desa Serang diberikan ketenteraman dan kemakmuran dari hasil laut yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat pesisir selatan,” ujarnya (18/6).
Dwi Handoko menambahkan, sebelum pagelaran wayang kulit digelar, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan tradisi larung sesaji sebagai bentuk rasa syukur para nelayan atas hasil laut yang diperoleh selama ini.
Ia berharap seluruh rangkaian tradisi budaya yang dilaksanakan setiap tahun tersebut dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sekaligus menjadi sarana mempererat persatuan masyarakat serta menjaga identitas budaya Jawa yang telah tumbuh dan berkembang di Desa Serang selama puluhan tahun. (Wiro)














