BLITAR, Kabinetri.id –Di tengah hiruk-pikuk wacana tentang perbedaan, identitas, dan ketegangan sosial, sebuah klenteng di sudut Kota Blitar justru menawarkan kisah lain: tentang kesabaran, solidaritas, dan keberagaman yang dirawat dalam diam.
Malam itu, jelang pergantian Tahun Baru Imlek 2577, Klenteng Poo An Kiong kembali bercahaya. Lilin menyala di altar, dupa mengepul perlahan, dan umat Konghucu melangkah masuk dengan wajah tenang. Bagi banyak dari mereka, momen ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah penanda bahwa luka lama mulai pulih.
Empat tahun lalu, kebakaran melanda klenteng yang telah puluhan tahun menjadi pusat ibadah dan kebudayaan umat Tionghoa di Blitar. Api menghanguskan sebagian bangunan, meninggalkan trauma sekaligus pertanyaan: apakah tempat ini akan benar-benar bangkit kembali?
Jawabannya hadir tahun ini.
Imlek 2577 menjadi momentum kembalinya Klenteng Poo An Kiong sebagai pusat ibadah utama. Sebuah kebangkitan yang tidak hanya ditandai oleh rampungnya bangunan fisik, tetapi juga oleh pulihnya kepercayaan dan semangat kolektif umat—bahkan melampaui sekat agama dan daerah.
Rohaniawan Klenteng Poo An Kiong, Ibu Titis, menyebut proses pemulihan itu sebagai perjalanan panjang yang ditopang kebersamaan lintas batas.
“Yang pertama tentu rasa sangat bersyukur. Pasca terbakarnya klenteng, kami berusaha membangun kembali dengan segala kekuatan yang kami miliki. Tapi ini bukan kerja satu komunitas saja,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan datang dari berbagai penjuru—masyarakat Blitar, daerah lain di Pulau Jawa, hingga luar negeri.
“Support itu datang dari banyak elemen. Sesuatu yang berat akhirnya bisa kami lewati bersama. Itu yang paling kami syukuri,” katanya.
Di sinilah Poo An Kiong melampaui fungsinya sebagai rumah ibadah. Ia menjadi simbol bagaimana solidaritas dapat tumbuh di atas nilai kemanusiaan, bukan semata kesamaan keyakinan.
Ritual, Ingatan, dan Perjalanan Batin
Rangkaian Imlek 2577 dimulai sejak tujuh hari sebelum Tahun Baru, diawali ritual Sang Ang—ungkapan syukur kepada Tuhan sekaligus ajakan untuk melakukan introspeksi diri. Bagi umat Konghucu, Imlek bukan hanya soal perayaan, tetapi juga tentang menata ulang batin dan sikap hidup.
Usai ritual tersebut, klenteng dibersihkan secara gotong royong. Umat menyapu halaman, merapikan altar, dan membersihkan ruang ibadah. Di rumah-rumah, tradisi serupa dilakukan. Debu disingkirkan, bukan hanya dari lantai dan meja, tetapi juga dari ingatan dan emosi yang memberatkan.
Pada H-1 Imlek, doa-doa untuk leluhur dilantunkan di rumah masing-masing. Tradisi ini menegaskan bahwa kehidupan hari ini terhubung dengan perjalanan generasi sebelumnya—sebuah kesadaran historis yang kian relevan di tengah dunia yang serba cepat.
Malam Imlek menjadi titik temu antara keluarga, tradisi, dan ruang publik. Setelah makan malam bersama, umat berjalan menuju klenteng. Tepat tengah malam, sembahyang bersama digelar. Dentuman genderang Barongsai memecah keheningan, disambut sorak anak-anak dan senyum haru orang dewasa.
Di ruang itu, ritual keagamaan bertemu dengan ekspresi budaya. Barongsai tak hanya menjadi tontonan, tetapi simbol harapan dan penolak bala—sebuah doa kolektif agar tahun baru membawa kebaikan.
Tahun Kuda Api dan Refleksi Sosial
Imlek 2577 berada dalam Tahun Kuda Api, menurut penanggalan Yinli. Dalam tradisi Fengshui, api melambangkan energi dan semangat. Namun Ibu Titis mengingatkan, simbol itu perlu dimaknai secara reflektif.
“Kami menyadari bahwa kehidupan sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Kami bagian dari masyarakat Indonesia, dan itu kami rasakan,” ujarnya.
Menurutnya, api tidak selalu identik dengan kemarahan atau gejolak.
“Api juga bisa berarti semangat. Tapi yang kami harapkan bukan semangat emosi, melainkan semangat nurani—energi yang lahir dari kejernihan pikiran dan ketenangan batin,” katanya (12/02).
Pesan ini terasa relevan di tengah masyarakat yang kerap terpolarisasi. Dalam konteks tersebut, Imlek menjadi ruang refleksi sosial, bukan hanya perayaan internal komunitas.
Tradisi, Toleransi, dan Ruang Bersama
Hari-hari setelah Imlek diisi dengan silaturahmi lintas generasi. Yang muda mengunjungi yang tua, mempererat ikatan keluarga. Hari kedua, yang dikenal sebagai Hari Arwah, dimaknai sebagai waktu ketika leluhur “menengok” anak cucunya. Doa-doa pun kembali dipanjatkan, sebagian besar dalam suasana rumah yang hening.
Rangkaian ibadah berlanjut hingga ritual Jing Tian Gong pada malam ke-9 sebuah sembahyang besar sebagai prasatya untuk memperbaiki diri sepanjang tahun.
Perayaan Imlek 2577 di Blitar akan ditutup dengan Cap Go Meh, yang direncanakan diisi kirab budaya. Kirab ini bukan sekadar perayaan komunitas Tionghoa, tetapi ruang perjumpaan publik—di mana warga dari berbagai latar dapat hadir, menonton, dan merayakan keberagaman bersama.
Di sinilah Blitar menawarkan potret Indonesia dalam skala kecil: keberagaman yang tidak selalu riuh diperdebatkan, tetapi dijalani dalam praktik sehari-hari.
Dari Puing ke Pelita
Klenteng Poo An Kiong kini berdiri kembali—sebagai bangunan yang dipugar, ruang spiritual yang hidup, dan simbol ketahanan sosial. Dari api yang pernah melukai, lahir api lain: api nurani, yang menghangatkan, bukan membakar.
“Semoga di Tahun Kuda Api ini kita diberi ketenangan batin, kejernihan pikiran, dan semangat untuk berkarya. Kalau itu ada, kesejahteraan akan mengikuti,” ucap Ibu Titis.
Di tengah berbagai tantangan kebangsaan, kisah dari Blitar ini mengingatkan: toleransi bukan sekadar jargon. Ia hidup dalam kerja sunyi, solidaritas nyata, dan kesediaan untuk bangkit bersama apa pun latar belakangnya. (Wiro)














