BLITAR, Kabinetri.id– Di sepanjang jalan persawahan Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, deretan pohon mojo mulai tumbuh dan menarik perhatian warga. Buah yang selama ini lebih dikenal karena aroma tajam dan rasa pahitnya itu kini mendapat tempat baru sebagai bahan baku minuman fermentasi yang diyakini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
Di tangan warga dan pemerintah desa, buah mojo atau maja (Aegle marmelos) tidak lagi dipandang sebagai tanaman pelengkap semata. Sejak 2023, buah tersebut diolah menjadi minuman fermentasi tradisional bernama “Unjukan Madja Legi” sebuah inovasi yang menggabungkan kearifan lokal dengan pemanfaatan tanaman herbal yang tumbuh di lingkungan desa.
Bagi masyarakat Jawa, buah mojo memiliki nilai historis tersendiri. Namun di Minggirsari, nilai itu kini berkembang menjadi potensi ekonomi sekaligus kesehatan. Melalui proses fermentasi, kandungan alami buah mojo diolah menjadi minuman fungsional yang lebih mudah dikonsumsi dan memiliki cita rasa yang lebih bersahabat.
Secara ilmiah, fermentasi buah mojo diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti tannin, flavonoid, kumarin, marmelosin, serta vitamin C. Proses fermentasi membantu mengurai sejumlah zat antinutrisi sehingga kandungan bermanfaatnya lebih mudah diserap tubuh.
Khasiat yang paling banyak dikenal adalah kemampuannya membantu menjaga kesehatan pencernaan. Kandungan tannin dan kumarin berfungsi sebagai antibakteri alami yang dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare dan disentri. Selain itu, serat dan senyawa prebiotik yang terkandung di dalamnya turut mendukung kesehatan saluran pencernaan.
Tak hanya itu, kandungan flavonoid dan antioksidan dalam fermentasi buah mojo juga berperan menangkal radikal bebas penyebab kerusakan sel. Senyawa tersebut membantu mengurangi peradangan, menjaga kesehatan hati, serta berpotensi membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh.
Manfaat lain yang banyak menarik perhatian adalah kemampuannya membantu mengelola kadar gula darah. Beberapa senyawa alami yang terdapat dalam buah maja diketahui mendukung fungsi hormon insulin sehingga membantu menjaga kestabilan gula darah dan menekan risiko diabetes.
Kepala Desa Minggirsari, Eko Hariadi, mengatakan pemerintah desa terus berupaya mengenalkan buah mojo kepada masyarakat melalui program penanaman pohon di berbagai titik strategis desa.
“Beberapa waktu lalu, kami menanam sebanyak 30 pohon mojo di beberapa titik jalan desa maupun jalan persawahan,” ujarnya.
Menurut Eko, penanaman tersebut bukan sekadar penghijauan, melainkan investasi jangka panjang untuk memperkenalkan potensi buah mojo kepada masyarakat. Ia berharap ketika pohon-pohon tersebut mulai berbuah, warga dapat melihat langsung manfaat ekonominya melalui berbagai produk olahan yang bernilai tambah.
“Tujuan penanaman pohon buah mojo ini sebagai pondasi untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa buah ini jika diolah dengan baik dapat menghasilkan minuman tradisional yang berkhasiat,” katanya (23/6).
Fermentasi buah mojo menghasilkan minuman herbal dengan cita rasa khas yang dipercaya membantu menjaga daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi, mengurangi kadar asam urat, membantu mengendalikan gula darah, hingga meredakan gangguan asam lambung.
Dari sebuah buah yang dulu kerap diabaikan, mojo kini menjelma menjadi simbol inovasi desa. Melalui sentuhan kreativitas dan pemanfaatan potensi lokal, Desa Minggirsari menunjukkan bahwa kekayaan alam di sekitar masyarakat dapat diolah menjadi produk yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memberi manfaat kesehatan bagi banyak orang. (Wiro)














