banner 300250
banner 300250
BudayaDAERAHGaya HidupKESRAMARVESsosial

Di Balik Asap Kemenyan dan Lantunan Mocopat, Jamasan Pusaka di Istana Gebang Jaga Ruh Budaya Jawa

×

Di Balik Asap Kemenyan dan Lantunan Mocopat, Jamasan Pusaka di Istana Gebang Jaga Ruh Budaya Jawa

Sebarkan artikel ini
Ritual Jamasan Pusaka, Di Istana Gebang Bareng Lintas Budaya

BLITAR, Kabinetri.id– Aroma kemenyan perlahan memenuhi ruangan Balai Kesenian Istana Gebang. Di tengah suasana yang hening, tembang mocopat mengalun lirih, menyatu dengan doa-doa yang dipanjatkan para sesepuh. Satu per satu pusaka warisan leluhur diletakkan dengan penuh hormat untuk menjalani ritual jamasan, sebuah tradisi yang bukan sekadar membersihkan benda bersejarah, tetapi juga merawat ingatan, nilai, dan jati diri budaya Jawa.

Suasana sakral itu menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Suro Lintas Komunitas yang digelar di Istana Gebang, Kota Blitar, Minggu (12/7/2026). Bagi mereka yang hadir, ritual ini bukan hanya tontonan budaya, melainkan perjalanan batin untuk kembali mengingat akar peradaban yang diwariskan para leluhur.

Di balik prosesi yang berlangsung khidmat, tersimpan pesan sederhana namun kuat: budaya akan tetap hidup selama masih ada generasi yang bersedia menjaganya.

Ketua Panitia Gebyar Suro Lintas Komunitas, Hendra Setiyawan, menuturkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan sebagai ikhtiar menjaga marwah budaya Jawa agar tidak tergerus perkembangan zaman.

“Prinsipnya kita ini menjaga marwah supaya Jawa itu tetap hidup. Budaya adalah dasar bagi kita untuk melangkah menjadi masyarakat yang maju dalam kemajemukan. Nilai Jawa ini menjadi dasar yang kuat bagi berbagai latar belakang yang ada,” ujar Hendra.

Ritual diawali dengan Suguh Leluhur dan doa Suronan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu. Setelah itu, para peserta bergerak menuju sumur tua di kawasan Istana Gebang untuk menjalani prosesi memule mata air. Air yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari sejarah kawasan tersebut didoakan agar terus membawa kehidupan, keberkahan, dan manfaat bagi masyarakat.

Memasuki inti acara, perhatian seluruh peserta tertuju pada puluhan pusaka yang telah tertata rapi. Tahun ini, sekitar 35 pusaka menjalani ritual jamasan, mulai dari keris, tombak, cundrik hingga berbagai jimatan yang diwariskan lintas generasi.

Dengan penuh kehati-hatian, setiap pusaka dibersihkan melalui tata cara adat yang telah diwariskan turun-temurun. Prosesi berlangsung tanpa tergesa, diiringi lantunan mocopat dan doa-doa Jawa yang menciptakan suasana syahdu. Bagi para pemerhati budaya, jamasan bukan sekadar membersihkan bilah logam, melainkan simbol penyucian diri sekaligus pengingat agar manusia senantiasa menjaga nilai luhur dalam kehidupan.

Keistimewaan Gebyar Suro tahun ini juga terlihat dari kuatnya nuansa gagrag Blitar yang mewarnai seluruh prosesi. Tradisi lokal dipadukan dengan semangat kebersamaan lintas komunitas sehingga menghadirkan wajah budaya Jawa yang tetap hidup, namun mampu diterima oleh berbagai kalangan.

Tak hanya dihadiri pegiat budaya dari Blitar, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi komunitas dari berbagai daerah. Perwakilan Komunitas Karawitan Indonesia (KKI), Mbah Raban dari Serang, Ki Amang Pringgaleh, hingga para pemerhati budaya dari Sidoarjo, Surabaya, Kediri, dan Tulungagung tampak membaur mengikuti setiap prosesi.

Bagi Hendra, keberadaan anak-anak muda di tengah ritual menjadi pemandangan yang paling membahagiakan. Sebab, budaya hanya akan bertahan apabila diwariskan, dipelajari, lalu dijalankan oleh generasi berikutnya.

“Jangan sampai budaya hanya menjadi cerita di buku sejarah. Kita berharap generasi muda mau mengenal, mencintai, dan melanjutkan tradisi ini sehingga warisan leluhur tetap hidup sebagai identitas bangsa,” pungkasnya .

Di tengah derasnya modernisasi, Jamasan Pusaka di Istana Gebang menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya. Justru dari tradisi yang terus dirawat inilah, sebuah bangsa menemukan arah untuk melangkah tanpa kehilangan jati dirinya. (Wiro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *