BLITAR, Kabinetri.id– Di tengah riuh suasana Blitar Djadoel 2026 yang dipadati ribuan pengunjung sejak hari pertama hingga penutupan pada Minggu (12/7/2026), sebuah sudut di kawasan timur-selatan arena pameran selalu ramai disinggahi masyarakat. Bukan sekadar karena tampilannya yang unik, melainkan karena menghadirkan pengalaman berbeda: merasakan nuansa pengobatan kerajaan tempo dulu melalui konsep “Tabib Istana” yang diusung Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Blitar.
Stan yang didesain menyerupai ruang tabib pada era 1300 hingga 1600 Masehi itu menghadirkan koleksi tanaman herbal, jamu tradisional, hingga edukasi mengenai pemanfaatan obat-obatan alami. Tak sedikit pengunjung yang berhenti untuk bertanya, berfoto, hingga mencicipi jamu yang disediakan secara gratis.
Konsep tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri sepanjang penyelenggaraan Blitar Djadoel 2026. Di tengah dominasi stan kuliner dan hiburan, PMI justru mengajak masyarakat kembali mengenal kekayaan alam Indonesia yang selama ini mulai terlupakan.
Sekretaris PMI Kota Blitar, Eko Harianto, mengaku antusiasme masyarakat tahun ini jauh melampaui penyelenggaraan sebelumnya. Menurutnya, perubahan konsep area Blitar Djadoel membuat pengunjung lebih leluasa menikmati setiap stan.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang telah mengunjungi stan PMI. Tahun ini suasananya jauh lebih hidup. Kalau sebelumnya seperti berada di dalam dom yang tertutup, sekarang pengunjung lebih bebas mengeksplorasi setiap sudut. Mereka datang, berdiskusi, mencoba jamu, bahkan banyak yang spontan ingin donor darah. Itu menjadi kebahagiaan bagi kami,” ujar Eko.
Mengusung tema Tabib Istana, PMI Kota Blitar ingin mengingatkan masyarakat bahwa banyak tanaman yang selama ini dianggap gulma ternyata memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa.
Berbagai jenis empon-empon, tanaman obat keluarga, hingga tanaman liar seperti krokot dan suket teki dipamerkan lengkap dengan penjelasan manfaatnya. Edukasi tersebut sekaligus menjadi kampanye agar masyarakat mulai kembali memanfaatkan obat herbal sebagai pelengkap gaya hidup sehat dan tidak selalu bergantung pada obat-obatan berbahan kimia.
Namun, misi PMI tidak berhenti pada edukasi herbal. Selama lima hari pelaksanaan Blitar Djadoel, stan PMI juga membuka layanan donor darah bagi seluruh pengunjung.
Menariknya, sebagian besar pendonor datang tanpa perencanaan. Mereka baru memutuskan mendonorkan darah setelah melihat aktivitas di stan PMI saat menikmati suasana Blitar Djadoel.
Rata-rata sekitar sepuluh orang berhasil mendonorkan darah setiap malam. Dari tanggal 8 hingga 12 Juli 2026, PMI berhasil menghimpun hampir 50 kantong darah untuk memenuhi kebutuhan pasien di Kota Blitar dan sekitarnya.
Menurut Eko, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat terhadap aksi kemanusiaan semakin meningkat.
“Sebagian besar memang tidak berniat donor dari rumah. Tetapi setelah melihat stan PMI, mereka tergerak untuk ikut membantu sesama. Alhamdulillah selama Blitar Djadoel kami memperoleh hampir 50 kantong darah. Ini sangat berarti karena kebutuhan darah terus berjalan setiap hari,” jelasnya.
Ia memastikan stok darah di Unit Donor Darah PMI Kota Blitar saat ini berada dalam kondisi aman. Perputaran darah rata-rata mencapai 25 hingga 30 kantong setiap hari sehingga kebutuhan rumah sakit masih dapat terpenuhi.
Bahkan belum lama ini, PMI Kota Blitar juga membantu memenuhi kebutuhan darah jenis Thrombocyte Concentrate (TC) milik PMI Kabupaten Blitar yang sempat mengalami kekosongan stok sebagai bentuk kolaborasi kemanusiaan antarwilayah.
Menutup rangkaian Blitar Djadoel 2026, PMI berharap semangat masyarakat untuk hidup sehat dan berbagi melalui donor darah terus tumbuh. Eko optimistis kegiatan-kegiatan seperti Blitar Djadoel tidak hanya menjadi hiburan tahunan, tetapi juga mampu menjadi ruang edukasi sekaligus membangun kepedulian sosial.
“Harapan kami seluruh masyarakat selalu diberikan kesehatan. Semoga Kota Blitar semakin ramai, semakin maju, semakin semarak, dan semoga semangat gotong royong serta kepedulian kepada sesama terus tumbuh di tengah masyarakat,” pungkasnya. (Wiro)














