banner 300250
banner 300250
POLITIK

Kiprah Politik Cucu Proklamator yang Melaju dengan Jalan Ideologi Berbeda

×

Kiprah Politik Cucu Proklamator yang Melaju dengan Jalan Ideologi Berbeda

Sebarkan artikel ini

BLITAR, Kabinetri.id – Didi Mahardhika Soekarno cucu Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, kembali menjadi sorotan. Bukan semata karena ia berasal dari trah Proklamator, tetapi karena keberaniannya menempuh jalur politik yang tidak selalu sejalan dengan arus utama keluarga besar Bung Karno.

Berbeda namun konsisten itulah kesan yang ditangkap publik saat Mahardhika berbicara mengenai pilihan politiknya. Dalam pernyataan yang disampaikan penuh ketenangan dan refleksi, ia menegaskan bahwa langkahnya bukan keputusan instan atau reaksi sesaat. Ada dua amanah yang tetap ia pegang erat:

1. Amanah sang ibunda, mendiang Rachmawati Soekarnoputri.

2. Amanah Prabowo Subianto, tokoh yang ia sebut sudah seperti keluarga sendiri.

“Pesan ibunda jelas: tetap setia kepada Bapak Prabowo Subianto dan Partai Gerindra. Alhamdulillah, amanah itu saya jalankan sejak dulu dan sampai sekarang,” ujar Mahardhika, Kamis (04/12/2025).

Mahardhika menjelaskan alasannya mantap bernaung di Partai Gerindra. Baginya, partai tersebut merupakan wadah politik yang paling dekat dengan nilai-nilai perjuangan Bung Karno tanpa menciptakan sekat ideologis baru.

“Gerindra itu cocok dengan darah ideologi saya. Ada garis ajaran kakek saya, Bung Karno, tetapi tidak dibentur-benturkan dengan siapa pun,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa hubungan dirinya dengan Prabowo Subianto bukan hanya relasi politik. Ada kedekatan personal yang sudah terjalin sejak lama.

“Bagi saya, Pak Prabowo sudah seperti bapak sendiri. Itu yang saya pegang,” tegasnya.

Dalam suasana politik yang masih diramaikan narasi pro-Soekarno, pro-Suharto, dan berbagai dikotomi lama, Mahardhika memilih berdiri di posisi berbeda. Menurutnya, pendekatan seperti itu hanya mempersempit ruang persatuan bangsa.

“Dikotomi seperti itu sudah tidak relevan. Mengkotakkan rakyat ke kubu sini atau kubu sana hanya membuat bangsa ini berhenti melangkah,” ujarnya.

Didi Mahardika menyayangkan jika masih ada pihak yang memanfaatkan figur-figur besar sejarah untuk kepentingan politik yang sempit.

“Kasihan masyarakat. Mereka disuguhi hal-hal negatif, dijual gambar tokoh-tokoh yang justru menghasilkan dampak semu, hanya pseudo saja,” tambahnya.

Sebagai cucu Bung Karno dan putra Rachmawati Soekarnoputri, Mahardhika mengakui bahwa politik dan ideologi merupakan bagian dari warisan keluarga. Namun ia memilih menerjemahkan warisan itu secara kontekstual mendorong politik yang mempersatukan, bukan memecah belah.

Dengan tetap memegangakuat amanah keluarga serta keyakinannya terhadap visi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Mahardhika menempatkan dirinya sebagai figur yang ingin menghadirkan politik yang lebih sejuk, matang, dan mengedepankan persatuan nasional.

“Bangsa ini butuh jembatan, bukan tembok. Dan saya ingin berada di sisi yang menjembatani,” tutupnya dengan tegas. (Wiro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *