KEDIRI, Kabinetri.id– Setiap Februari, pusara Tan Malaka di Desa Selopagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, kembali ramai. Mahasiswa, pegiat sejarah, dan komunitas lintas daerah datang berziarah, menggelar doa, membaca biografi, hingga membacakan puisi. Tahun ini, mereka memperingati Haul ke-77 Tan Malaka sebuah ritual ingatan yang telah berlangsung dua dekade.
Namun, di sinilah paradoks itu mengemuka: Tan Malaka dikenang secara ritual, tetapi kerap absen dalam narasi utama sejarah nasional.
Ingatan yang Hidup di Pinggir, Bukan di Pusat
Secara formal, Tan Malaka telah diakui sebagai Pahlawan Nasional sejak 1963. Namanya tercantum dalam Keppres, fotonya ada di buku sejarah, dan kutipan pemikirannya sesekali muncul dalam diskursus kebangsaan. Tetapi pengakuan simbolik itu tak berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman publik atas gagasan-gagasannya.
Ketua Tan Malaka Institute, Imam Mubarok, menyebut haul ini bukan sekadar tradisi doa, melainkan upaya melawan lupa.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Tan Malaka adalah bapak bangsa, ide-ide kemerdekaan itu lahir dari beliau. Tetapi tidak banyak yang sungguh-sungguh mempelajarinya,” ujarnya (14/02).
Pernyataan ini membuka satu asumsi penting: ingatan bangsa terhadap Tan Malaka tidak hilang, tetapi dipinggirkan. Ia hadir sebagai nama, bukan sebagai pemikiran.
Mengapa Tan Malaka Sulit “Diingat” Secara Utuh?
Paradoks ini tidak muncul tanpa sebab. Tan Malaka adalah figur yang menolak kemudahan kategorisasi. Ia seorang nasionalis, tetapi juga internasionalis. Ia pejuang kemerdekaan, tetapi kerap berseberangan dengan elite politik sezamannya. Ia menulis tentang republik jauh sebelum republik itu ada, tetapi wafat tanpa negara yang benar-benar merangkulnya.
Dalam sejarah resmi, figur seperti ini kerap merepotkan. Negara cenderung lebih nyaman dengan pahlawan yang kisahnya linear: lahir, berjuang, berjasa, wafat, lalu dimuliakan. Tan Malaka justru menghadirkan sejarah yang berlapis, penuh konflik, dan tidak selalu selaras dengan narasi negara.
Akibatnya, ingatan tentang Tan Malaka lebih subur di ruang-ruang alternatif: komunitas sejarah, diskusi kampus, haul tahunan, dan literatur kritis bukan di arus utama pendidikan publik.
Haul sebagai Bentuk Perlawanan Ingatan
Haul ke-77 di Kediri menjadi contoh bagaimana ingatan alternatif itu dirawat. Rangkaian acara tidak berhenti pada doa, tetapi juga refleksi, pembacaan biografi, dan diskusi tentang relevansi pemikiran Tan Malaka hari ini.
Peserta datang dari berbagai daerah Madiun, Tulungagung, hingga luar Jawa Timur—menunjukkan bahwa ingatan ini bergerak secara horizontal, dari komunitas ke komunitas, bukan vertikal dari negara ke warga.
“Ini bukan seremoni kosong,” tegas Imam. “Kami ingin memastikan bahwa semangat Tan Malaka tetap hidup. Secara jasad beliau wafat, tetapi gagasannya tidak pernah mati.”
Di titik ini, haul berfungsi sebagai arsip hidup. Ia menggantikan peran negara yang belum sepenuhnya memberi ruang bagi Tan Malaka dalam kurikulum, museum nasional, atau diskursus resmi kebangsaan.
Antara Pengakuan dan Penghayatan
Kontra-argumen yang kerap muncul adalah: bukankah Tan Malaka sudah diakui sebagai pahlawan nasional? Bukankah namanya sudah tercatat dalam sejarah?
Pertanyaan itu sah, tetapi tidak cukup. Pengakuan administratif berbeda dengan penghayatan intelektual. Tan Malaka mungkin telah “selesai” secara hukum, tetapi belum “selesai” secara pemikiran. Ide-idenya tentang kemerdekaan, pendidikan politik rakyat, dan keberanian berpikir mandiri masih jarang dijadikan rujukan serius dalam membahas problem kebangsaan kontemporer.
Di sinilah paradoks itu menjadi relevan hari ini: bangsa ini rajin memperingati, tetapi ragu menggali secara kritis.
Ingatan sebagai Pilihan Politik
Haul Tan Malaka di Kediri akhirnya bukan hanya soal masa lalu, melainkan cermin masa kini. Ia mempertanyakan bagaimana bangsa ini memilih siapa yang diingat, bagaimana diingat, dan untuk kepentingan apa.
Selama Tan Malaka hanya dikenang sebagai nama dan tanggal, paradoks itu akan terus bertahan. Tetapi selama ada komunitas yang merawat ingatan kritis di pusara, di ruang diskusi, dan di pinggiran sejarah resmi Tan Malaka tetap hidup sebagai gagasan yang belum selesai.
Dan mungkin, justru di sanalah tempatnya: tidak nyaman, tidak jinak, tetapi terus mengusik ingatan bangsa. (Wiro)














