Blitar, Kabinetri.id— Menjelang bulan suci Ramadan, harga kebutuhan pokok di wilayah Blitar Raya secara umum masih terpantau relatif stabil. Namun, satu komoditas kembali “membuat mata berair”, yakni cabai rawit merah yang mengalami lonjakan harga signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan pantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, harga cabai rawit merah kini berada di kisaran Rp71.000 per kilogram. Angka ini naik dari harga sebelumnya yang masih bertahan di level Rp68.500 per kilogram.
Kepala Disperindag Kabupaten Blitar, Darmadi, menjelaskan kenaikan harga dipicu oleh keterbatasan pasokan di tengah permintaan pasar yang terus meningkat.
“Cabai rawit merah kemarin masih di angka Rp68.500, sekarang sudah menyentuh Rp71.000 per kilogram. Pasokan dan produksi memang masih kurang, sementara permintaan tinggi. Harga cabai ini memang fluktuatif,” ujar Darmadi.
Meski demikian, Darmadi memastikan komoditas bahan pokok lainnya masih dalam kondisi relatif stabil dan stok di pasaran dinilai aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan.
Lonjakan harga cabai rawit juga terpantau di Pasar Legi, Kota Blitar. Salah seorang pedagang, Sujiati (52), mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi hampir setiap hari dan terbilang cukup ekstrem.
“Kenaikannya sangat cepat. Dari Rp25 ribu, naik ke Rp40 ribu, lalu Rp50 ribu, sampai hari ini sudah tembus Rp72 ribu per kilogram,” kata Sujiati (07/02).
Menurutnya, kenaikan harga harian bisa mencapai Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram, kondisi yang membuat pedagang dan konsumen sama-sama mengelus dada.
Faktor utama melonjaknya harga cabai rawit diduga kuat berasal dari krisis pasokan di tingkat petani. Cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang menyebabkan banyak tanaman cabai mengalami gagal panen, sehingga distribusi ke pasar menjadi terbatas.
Situasi ini semakin diperparah oleh meningkatnya permintaan menjelang Ramadan, sebuah pola yang secara ekonomi hampir selalu diikuti oleh kenaikan harga komoditas pangan strategis, terutama cabai.
Pemerintah daerah saat ini terus melakukan pemantauan harga secara berkala guna menjaga stabilitas pasar dan mengantisipasi lonjakan harga yang berpotensi memberatkan masyarakat. (Wiro)














